Skip to main content

A MONSTER CALLS (2016) REVIEW : Film Fantasi Penuh Emosi

 

Jika sudah pernah membaca A Monster Calls milik Patrick Ness, tentu kalian akan menantikan bagaimana film adaptasi dari buku yang menang penghargaan. Ya, A Monster Calls mendapatkan kesempatan untuk akhirnya menjadi sebuah perjalanan visual adaptasi. Jika sudah pernah membaca dan bermimpi akan diadaptasi menjadi film, mungkin akan terpikirkan nama Guilermo Del Toro yang mumpuni dalam menyampaikan pesan tersebut ke dalam sebuah gambar bergerak.

Sayangnya, Guilermo Del Toro tak menjadi sutradara dari A Monster Calls. Proyek ini ternyata berada di tangan J.A. Bayona yang sudah pernah menangani film-film serupa. Sebut saja The Orphanage dan The Impossible, rasanya dua karya miliknya sudah cukup menjadi referensi atas kapabilitas J.A. Bayona sebagai sutradara. Sehingga, A Monster Calls diarahkan oleh J.A. Bayona rasanya sudah cukup berpengaruh besar dalam gaya penuturan film adaptasinya.

Beruntungnya lagi, A Monster Calls masih menggunakan Patrick Ness sebagai penulis naskahnya. Harapan film A Monster Calls sebagai sebuah film adaptasi yang mencuri perhatian seakan-akan semakin besar. Bagi pembaca mau pun non pembaca, boleh saja berharap baik akan performa A Monster Calls  karena J.A. Bayona dan Patrick Ness mempunyai visi yang sama dalam mengarahkan proyek adaptasi ini. A Monster Calls bukan hanya sekedar sebuah film fantasi dengan nuansa gelap yang sekedar bersenang-senang. Ada pelajaran tentang arti kehidupan dan nilai-nilai lainnya yang bermain sangat kuat. 


A Monster Calls bisa dibilang adalah sebuah film tentang transisi fase usia yang dialami oleh anak-anak menuju remaja. Problematika yang dilematis saat mengalami transisi tersebut ini yang berusaha digali di dalam A Monster Calls, baik dalam buku maupun film adaptasinya. Faktor pembeda adalah pemilihan pendekatan yang dilakukan A Monster Calls yang lebih condong ke arah fantasi. Hal ini mungkin dipilih agar audiens sebagai komunikan mencari makna yang lebih dalam lagi terhadap pesan yang disampaikan di dalam A Monster Calls.

J.A. Bayona berhasil menangkap segala semangat yang sudah ditulis oleh Patrick Ness di dalam A Monster Calls. Sehingga, penonton akan mendapatkan dampak yang luar biasa kuat setelah menonton A Monster Calls. Meski dengan pemilihannya sebagai film Fantasi, A Monster Calls punya cara untuk menyampaikan pesannya dengan emosional. Tujuannya adalah A Monster Calls tak hanya sebuah film fantasi yang mewah tetapi juga hangat dan tak terasa air mata akan jatuh ke pipi saat adegan kunci di dalam film ini. 


Menceritakan bagaimana Conor (Lewis MacDougall) yang sehari-harinya berusaha hidup mandiri. Dia tinggal bersama dengan Sang Ibu (Felicity Jones) yang sedang mengidap penyakit. Conor memiliki kehidupan yang bahkan jauh dari kata menyenangkan, yang mana membuatnya lebih suka untuk membangun dunianya sendiri lewat gambar-gambar yang ia buat. Suatu hari, dia melihat pohon disudut lain rumahnya dan tepat pada jam tertentu pohon tersebut berubah menjadi Monster yang mendatangi Conor.

Sang monster (Liam Neeson) berusaha untuk menanyai Conor tentang banyak hal terutama dengan mimpinya belakangan yang sering membangunkannya. Namun, Conor enggan menceritakan detil cerita tentang mimpi yang dialaminya. Tetapi, Monster tersebut memaksa Conor untuk menceritakan segala hal tentang mimpinya setelah Monster tersebut selesai menceritakan tiga cerita kepadanya. Jika tidak, Conor akan mendapatkan balasan yang setimpal. 


Keanggunan J.A. Bayona dalam mempresentasikan adaptasi A Monster Calls inilah yang menjadi kekuatan. Pengarahan J.A. Bayona berhasil menumbuhkan simpati kepada penontonnya terhadap karakter-karakter rekaan A Monster Calls. Sehingga, A Monster Calls punya kemasan yang berbeda dengan pemilihan genre-nya. J.A. Bayona perlahan-lahan membangun relevansi dari karakter ke penonton, sehingga karakternya punya kesempatan untuk mengembangkan dirinya atau menjadi multidimensional.

A Monster Calls mengusung bagaimana dilema kehidupan Conor yang sedang mengalami transisi. Mengenalkan bagaimana problematika sosial tentang ruang opini pribadi seseorang yang berhak mendapatkan porsi yang sama. Conor yang menuju remaja, berusaha untuk mendapatkan atensi dari berbagai pihak, apalagi keluarganya. Bagaimana Conor sudah mendapatkan wewenang untuk memutuskan sendiri apa yang dia inginkan dalam hidupnya.

Juga, A Monster Calls menceritakan tentang bagaimana menyayangi orang yang benar-benar dekat dengan kita. Mencintai yang tak membebani, dan juga berusaha agar orang yang dekat tersebut juga bahagia dengan kita. J.A. Bayona menancapkan nilai-nilai kehidupan itu kepada kehidupan Conor dengan dramatisasi yang sangat pas. Sehingga, A Monster Calls mempunyai titik puncak yang benar-benar tak bisa ditahan oleh penontonnya untuk tergugah hatinya bahkan menitihkan air matanya dengan sukarela. 


Jangan lupakan juga bagaimana setiap aktor dan aktrisnya yang mampu bermain seirama dan semakin memperkuat semangat A Monster Calls sebagai sebuah film yang kuat. Lewis MacDougall sebagai pendatang baru berhasil membuat karakter Conor sangat hidup dan dekat dengan penontonnya. Ikatan emosinya juga begitu nyata dengan Felicity Jones yang berperan sebagai Ibu. Perannya dengan screen time yang minimalis berhasil mematahkan hati penontonnya.

Dengan segala alternatif dan pengemasan di dalamnya, A Monster Calls adalah sebuah film transisi fase kehidupan anak-anak ke remaja dengan kemasan fantasi bernuansa kelam. J.A. Bayona berhasil mengarahkan sebuah adaptasi dari buku Patrick Ness dengan bangunan emosi yang sangat kuat. Pun, A Monster Calls punya banyak nilai-nilai dan pesan-pesan sosial yang tertangkap di dalamnya. Karakter-karakternya yang multidimensional akan mempermudah penontonnya untuk menaruh simpati dan pada adegan kunci di dalam film A Monster Calls penontonnya akan sukarela menitihkan air mata. Dan sekali lagi, J.A. Bayona berhasil bermain dengan emosi penontonnya dengan dramtisasi yang pas. Bagus!

Comments

Popular posts from this blog

The Glass Castle

Destin Cretton is anything but a household name. Yet, the gifted filmmaker turned heads with his massively overlooked 2013 drama, Short Term 12 . The effort bridged together Cretton's singular story and vision with the remarkable acting talents of Brie Larson. Since then Larson has gone on to win an Academy Award ( Room ), but her career comes full circle in her latest collaboration with Destin Cretton in the adapted film The Glass Castle . Told non-chronologically through various flashbacks, The Glass Castle follows the unconventional childhood of gossip columnist and eventual Best-Selling author Jeannette Walls (Larson). Prior to her career as a writer, Walls grows up under the dysfunctional supervision of her alcoholic father (Woody Harrelson) and her amateur artist mother (Naomi Watts). But as Jeannette and her siblings begin to mature and fully comprehend their squatter-lifestyle and impoverished upbringing, they must work together to escape the clutches of their deadbeat par...

The Best of the 2016 Philadelphia Film Festival

Sadly, the 25th annual Philadelphia Film Festival has come and gone. One of my favorite yearly events produced an amazing film lineup throughout its 11-day span of uninterrupted movie-watching, making 2016 the city's most impressive festival to date. I was only able to catch 17 films in total, a slightly lower figure than usual, but I'm thrilled to look back and recognize my "Best of the Fest" selections ( here's a look back at the 2015 festival ). Keep an eye out for these picks in the upcoming months, because many of them are guaranteed to garner acclaim during this year's Oscar run. Best Supporting Actress Honorable Mention:  Greta Gerwig ( Jackie ) and Janelle Monae ( Moonlight ) #3.  Naomie Harris ( Moonlight ) #2.  Haley Squires ( I, Daniel Blake ) And the winner is ... Michelle Williams - Manchester by the Sea Williams has always been a personal favorite of mine. And although her screen time is somewhat limited in this over two-hour drama, she most ...

Rapid Reviews: Despicable Me 3 and The House

If there's one current animated franchise I always look forward to, it's the Despicable Me films. Credited directors Kyle Balda, Pierre Coffin and Eric Guillon (co-director) bring to theaters the third installment of this series. Yet, with each subsequent journey into the hilarious and complicated life of former-super-villain Gru (voice of Steve Carell), the Despicable Me franchise seems to take a step backwards. After foiling an attempt at capturing the disgruntled former child star and 80s retro villain, Balthazar Bratt (voiced by South Park creator Trey Parker), Gru and Lucy (Kristen Wiig) are fired from the Anti-Villain League (AVL). And just as Gru breaks the unfortunate news to his trio of adopted daughters, he's visited by a man who reveals that Gru has a twin brother named Dru (also Steve Carell) who happens to possess a taste for villainy himself. The estranged siblings engage in some mischievous behavior behind Lucy's back and it leads on a path back to Bal...