Skip to main content

AACH... AKU JATUH CINTA (2016) REVIEW : Kekacauan Indah Sebuah Puisi Visual


Februari telah datang.  Muda dan mudi akan menyelenggarakan sebuah selebrasi cinta besar-besaran di dua minggu pertama. Tentu, euforia akan selebrasi cinta megah di penjuru dunia ini akan dirasakan oleh sejuta umat. Bukan hanya pasangan yang sedang dimabuk cinta, pun juga dirasakan oleh sineas-sineas untuk ikut serta meramaikan hari kasih sayang ini. Dan dengan cara memberikan tontonan romansa cinta itulah, para sineas berkontribusi menyemarakkan hari kasih sayang ini.

Salah satunya yang ikut serta dalam gegap gempita selebrasi kasih sayang ini adalah Garin Nugroho. Ya, meskipun pada awalnya film ini tak dikhususkan untuk meramaikan hari kasih sayang dan rilis akhir tahun lalu. Dan menayangkannya ke dalam bulan yang penuh kasih sayang pun akan dianggap pemilihan yang tepat. Garin mempersembahkan sebuah kisah kasih Romi dan Yuli lintas zaman lewat film Aach... Aku Jatuh Cinta.

Garin Nugroho terkenal dengan keunikannya dalam bertutur tanpa melupakan estetika yang membuat mata juga ikut terhibur. Meskipun, tak bisa banyak orang yang ikut turut serta merasakan gegap gempita Romi dan Yuli berpesta merayakan cinta. Tak peduli dengan itu, Garin Nugroho masih berusaha keras agar Aach... Aku Jatuh Cintabisa diterima. Dan jadilah, Aach... Aku Jatuh Cinta sebagai sebuah puisi cinta paling tak terurus tetapi terindah yang pernah ada. 


Rumi (Chicco Jericho) dan Yulia (Pevita Pearce) hidup bertetangga sejak kecil. Mereka memiliki cerita pribadi masing-masing dengan keluarganya. Kehidupan Rumi sebenarnya baik-baik saja sampai usaha keluarganya harus terancam karena produk-produk impor yang masuk dan membuat ayahnya pailit. Hal ini menyebabkan sang ayah berlaku semena-mena dengan Rumi dan Ibunya. Dan dengan alasan ini pula, sang Ibu memutuskan untuk pergi meninggalkan Rumi dan Ayahnya.

Rumi dan Yuli adalah sahabat sejak kecil, dan ketika beranjak dewasa hubungan tersebut terasa lebih dekat. Rumi secara intensif mendekati Yuli karena menurutnya dia telah jatuh hati para Yuli. Meskipun, Yuli telah berusaha keras untuk menjauhi Rumi agar terhindar dari masalah-masalah hidupnya. Dan ketika Rumi pindah karena rumahnya di sita oleh perusahaan ayahnya, Yuli pun merindukan canda tawa Rumi. Dia merasa ada sesuatu yang berbeda ketika Rumi pergi. 


Romi dan Yuli, terkesan sangat mirip dengan Romeo dan Juliet, sebuah roman klasik karangan William Shakespeare. Jelas, ini bukanlah sebuah ketidaksengajaan adanya kemiripan dengan karakter milik William Shakespeare ini.  Ya, Aach... Aku Jatuh Cinta menggunakan sebuah anagram dari nama karakter sebuah kisah cinta sepanjang zaman yang juga berkaitan dengan karakter-karakter yang dibuat oleh Garin Nugroho.

Kisah cinta Romeo dan Juliet yang legendaris yang tak pernah lekang dimakan zaman, kembali digunakan sebagai pondasi cerita Aach... Aku Jatuh Cinta. Kisah cinta konstruksi Garin Nugroho ini melewati 3 generasi dengan ikonnya masing-masing. Kultur di setiap era yang mulai berubah juga semakin lama mempengaruhi bagaimana karakter-karakter di film Aach... Aku Jatuh Cintaberkembang di setiap menitnya. Dan hasilnya, penonton disuguhkan bagaimana Romi dan Yulia tak hanya sekedar bertahan akan konflik yang menimpanya, tetapi juga perubahan karakternya yang semakin matang.

Oh, tentu saja Garin Nugroho tak henti-hentinya bermain dengan simbol-simbol yang sudah menjadi ciri khasnya dalam bertutur. Pun dengan Aach... Aku Jatuh Cinta, film ini digunakan sebagai tanda bahwa bahasa akan berubah di setiap generasinya. Bahasa memiliki sifat dinamis yang akan selalu berubah sesuai dengan apa yang disepakati pada era itu. Hal itu akan sangat terasa lewat dialog-dialog yang dilantunkan oleh Romi dan Yulia di sepanjang film. 


Sifat baku yang ditempelkan kepada bahasa yang digunakan setiap harinya semakin lama akan semakin menghilang. Dan sesuai dengan judul filmnya, Aach... Aku Jatuh Cinta, film ini adalah sebuah perpaduan bahasa-bahasa dari setiap era yang akan terasa sangat kacau. Hanya saja, kekacauan itu berubah menjadi sebuah balada asam manis cinta yang indah dan terasa sangat nyata. Bukan terasa mengada-ada, layaknya kisah cinta Romi dan Yulia yang tak menemukan akhirnya.

Ya, puisi visual milik Garin Nugroho lewat kisah Romi dan Yuli ini adalah sebagai penanda bagaimana sebuah kultur dalam negeri yang selalu bertahan. Meski perlahan, para “ahli waris” kultur ini semakin dikikis oleh pemikiran-pemikiran barat yang dijadikannya sebagai kiblat baru. Apa lagi yang bisa dilakukan oleh kultur-kultur domestik ini selain bertahan dengan sisa-sisa relawan yang setia? Dan Garin Nugroho berusaha untuk mengingatkan itu lewat Aach... Aku Jatuh Cinta.

Meskipun carut marut, tetapi Aach... Aku Jatuh Cinta bukanlah film dengan teknis yang sembarangan. Garin Nugroho tetap memperhatikan detil-detil menarik lewat sandang-sandang cantik yang digunakan oleh para pelakonnya. Sehingga, akan terasa benar bagaimana Aach... Aku Jatuh Cinta menjadi sebuah maha karya cinta sebagai selebrasi kasih sayang dan bahasa. Pun, dengan lantunan musik moderen dikemas klasik yang membuat penonton mudah jatuh hati. 


Mungkin, ini adalah salah satu karya dari sutradara Garin Nugroho untuk merayakan kekuatan cinta dan budaya yang bertahan dalam era yang semakin berubah. Aach... Aku Jatuh Cintabukanlah sekedar romansa kisah kasih Romi dan Yuli dengan plot tak mendalam. Garin Nugroho akan berusaha menempelkan pesan-pesan simbolik lewat beberapa dialognya dan perubahan-perubahan halus para karakternya yang semakin terasa matang. Maka jadilah. Aach... Aku Jatuh Cinta sebagai sebuah kekacauan puisi visual yang indah dan menyenangkan.     

Comments

Popular posts from this blog

The Glass Castle

Destin Cretton is anything but a household name. Yet, the gifted filmmaker turned heads with his massively overlooked 2013 drama, Short Term 12 . The effort bridged together Cretton's singular story and vision with the remarkable acting talents of Brie Larson. Since then Larson has gone on to win an Academy Award ( Room ), but her career comes full circle in her latest collaboration with Destin Cretton in the adapted film The Glass Castle . Told non-chronologically through various flashbacks, The Glass Castle follows the unconventional childhood of gossip columnist and eventual Best-Selling author Jeannette Walls (Larson). Prior to her career as a writer, Walls grows up under the dysfunctional supervision of her alcoholic father (Woody Harrelson) and her amateur artist mother (Naomi Watts). But as Jeannette and her siblings begin to mature and fully comprehend their squatter-lifestyle and impoverished upbringing, they must work together to escape the clutches of their deadbeat par...

The Best of the 2016 Philadelphia Film Festival

Sadly, the 25th annual Philadelphia Film Festival has come and gone. One of my favorite yearly events produced an amazing film lineup throughout its 11-day span of uninterrupted movie-watching, making 2016 the city's most impressive festival to date. I was only able to catch 17 films in total, a slightly lower figure than usual, but I'm thrilled to look back and recognize my "Best of the Fest" selections ( here's a look back at the 2015 festival ). Keep an eye out for these picks in the upcoming months, because many of them are guaranteed to garner acclaim during this year's Oscar run. Best Supporting Actress Honorable Mention:  Greta Gerwig ( Jackie ) and Janelle Monae ( Moonlight ) #3.  Naomie Harris ( Moonlight ) #2.  Haley Squires ( I, Daniel Blake ) And the winner is ... Michelle Williams - Manchester by the Sea Williams has always been a personal favorite of mine. And although her screen time is somewhat limited in this over two-hour drama, she most ...

Rapid Reviews: Despicable Me 3 and The House

If there's one current animated franchise I always look forward to, it's the Despicable Me films. Credited directors Kyle Balda, Pierre Coffin and Eric Guillon (co-director) bring to theaters the third installment of this series. Yet, with each subsequent journey into the hilarious and complicated life of former-super-villain Gru (voice of Steve Carell), the Despicable Me franchise seems to take a step backwards. After foiling an attempt at capturing the disgruntled former child star and 80s retro villain, Balthazar Bratt (voiced by South Park creator Trey Parker), Gru and Lucy (Kristen Wiig) are fired from the Anti-Villain League (AVL). And just as Gru breaks the unfortunate news to his trio of adopted daughters, he's visited by a man who reveals that Gru has a twin brother named Dru (also Steve Carell) who happens to possess a taste for villainy himself. The estranged siblings engage in some mischievous behavior behind Lucy's back and it leads on a path back to Bal...