Skip to main content

FAST & FURIOUS 7 (2015) REVIEW : One Last Ride, For Paul


Sebagai salah satu franchiseterbesar di perfilman Hollywood dan sudah mencapai seri ke enam, Fast & Furious tentu memiliki banyak fans setia. Meski, pakem cerita dari Fast & Furious pertama hingga seri terakhirnya sudah memiliki banyak perbedaan. Tetapi, Fast & Furious tetap saja menjadi salah satu franchise yang dinantikan kemunculannya bagi semua orang dengan timeline cerita yang mulai menarik. Terlebih, dengan mid-credit scene di seri ke enamnya.
 
Tahun ini, Fast & Furious hadir dengan seri terbarunya untuk melanjutkan timeline cerita dari Fast & Furious 6. Justin Lin, sebagai sutradara, meninggalkan seri ini dan memindah tangankan tempat tertinggi itu ke tangan James Wan. Film ini pun sempat sedikit terhambat karena kabar duka yang menimpa salah satu pemainnya. Paul Walker, salah satu pemeran utama di film ini meninggal akibat kecelakaan mobil di saat proyek film ini sedang berjalan. 


Setelah timeline cerita yang memiliki kesinambungan yang menarik, di Fast & Furious 7 melanjutkan kisah dari seri nomor 6 dan berkesinambungan dengan seri yang ketiga. Di mana, Deckard (Jason Statham) membalaskan dendam adiknya yang sudah di serang oleh Dom (Vin Diesel), Brian (Paul Walker), Hobbs (Dwayne Johnson) serta kawanannya. Hidup mereka pun penuh dengan ancaman yang datang silih berganti yang disebabkan oleh Deckard.

Setelah kejadian na’as yang menimpa Hobbs, Dom dan Brian memutuskan untuk memburu Deckard untuk menangkapnya. Tetapi di tengah misinya untuk memburu Deckard, Dom dan Brian diberi tugas untuk mengambil barang yang sudah meretas sistem keamanan negara. God’s Eye, suatu sistem yang dapat menjadikan apapun menjadi sebuah ‘senjata’ ampuh untuk mengetahui keberadaan musuh. Dom dan Brian tahu hal tersebut berguna untuk memburu Deckard dan mau menerima misi tersebut.


Setelah Fast Five yang telah mencapai titik paling tinggi dari segala aspek filmnya, tentu mustahil ada seri lain dari film ini yang bisa melampaui seri kelima dari Fast & Furious. Benar juga, Fast & Furious 6mengalami sedikit kemunduran jika dibandingkan dengan seri kelimanya. Tangan hangat Justin Lin memang bisa membuat franchiseFast & Furious naik level. Meskipun, para fans akan merasa kecewa karena hilangnya pakem “balapan” yang ditawarkan sejak seri pertama. Tetapi, hal tersebut sudah diperbaiki lewat seri ke enam yang kembali menghadirkan pakem tersebut.

Maka, setelah kepergian Justin Lin dari bangku sutradara, Furious 7 pun berpindah tangan ke James Wan yang biasa menangani film-film horor. Hal ini pun membuat para penonton skeptis bahwa Furious 7 akan bisa tampil prima layaknya kedua seri sebelumnya. Tak di sangka, Furious 7 menjadi salah satu seri terbaik dari aksi Dom dan Brian. Memang tak tampil se-prima Fast Five dalam segi cerita, tetapi Furious 7 memberikan sesuatu yang lebih gila dan berbeda dibandingkan seri lainnya.

Jangan ragukan Fast & Furious dalam memberikan sekuens-sekuens gila menggunakan mobil balap. Akan selalu ada inovasi di setiap serinya saat mengendarai mobil balap. Begitu pun dengan seri terbaru dari franchise ini, James Wan memberikan kegilaan tanpa batas yang memang akan berada di luar logika manusia. Tetapi, inilah tujuan dari franchise ini bukan? Menyajikan kegilaan tanpa batas yang akan membuat penontonnya merasakan sensasi menyenangkan saat menontonnya. 


Akan ada banyak adegan dengan level kegilaan yang sangat besar dan megah. Bagusnya, James Wan pun bisa menghadirkan nyawa ke dalam setiap adegan sehingga rangkaian adegan itu tak hanya menjual kemegahannya tetapi juga ada tensi yang pas di dalamnya. Dan hal ini akan berdampak pada respon penonton yang tak akan berhenti berdecak kagum dan takjub dengan sekuens menyenangkan yang ditawarkan oleh James Wan ke dalam Fast & Furious 7.

Tak hanya decak kagum, tetapi ada sisi emosional yang akan terasa berbeda jika dibandingkan seri-seri sebelumnya. Untuk mengenang Paul Walker, James Wan dan Chris Morgan memberikan adegan penutup yang bisa membuat penontonnya menitihkan air mata. Pintarnya, mereka mengemas adegan perpisahan dengan Paul Walker dengan elegan. Mengemasnya lewat dialog-dialog indah penuh simbol dan makna yang dalam tentang suatu perpisahan dengan seorang sahabat. 


Furious 7 memang tak bisa serapi Fast Five dalam menjalankan setiap ceritanya. Terlalu banyak subplot cerita yang akhirnya membuat Furious 7 pun memiliki masalah dengan lubang-lubang di setiap ceritanya. Akhirnya, beberapa karakter pun memiliki kurang memiliki motivasi kenapa akhirnya dia harus ada di dalam filmnya. Pun, di sekuens paling akhir, akan terasa adanya tarik ulur emosi yang kurang tertangani dengan baik oleh James Wan. Dan hal itu disebabkan karena banyaknya Side Plot yang ditulis oleh Chris Morgan di dalam naskahnya yang tampil kurang rapi.

Naskah milik Chris Morgan pun memang sengaja tampil ringan dan biasa saja dengan penuh konflik klise yang pernah penontonnya lihat di berbagai film serupa. Ayolah, apakah kalian mengharapkan sesuatu penuh twist and turn untuk film Furious 7 agar bisa terlihat bagus? Toh, dengan segala macam plot yang ringan, James Wan masih bisa memberikan segala tensinya yang menyenangkan dan emosional sehingga Furious 7 bisa tampil prima dengan naskah dan plot yang ringan. 


Memang, Furious 7 tak bisa tampil serapi Fast Five yang sudah berada di level yang paling atas dari Franchise ini. Beberapa penuturan kisahnya mungkin akan terkesan masih berantakan sehingga terasa mengendur di adegan final-nya. Tetapi, James Wan berhasil membuat Furious 7 berada sedikit di bawah Fast Five dengan segala sekuens-sekuens gila yang didukung dengan camera work yang mendukung hal gila itu. James Wan berhasil menjadikan Furious 7 lebih terkenang di hati penontonnya and For Paul.

Comments

Popular posts from this blog

The Glass Castle

Destin Cretton is anything but a household name. Yet, the gifted filmmaker turned heads with his massively overlooked 2013 drama, Short Term 12 . The effort bridged together Cretton's singular story and vision with the remarkable acting talents of Brie Larson. Since then Larson has gone on to win an Academy Award ( Room ), but her career comes full circle in her latest collaboration with Destin Cretton in the adapted film The Glass Castle . Told non-chronologically through various flashbacks, The Glass Castle follows the unconventional childhood of gossip columnist and eventual Best-Selling author Jeannette Walls (Larson). Prior to her career as a writer, Walls grows up under the dysfunctional supervision of her alcoholic father (Woody Harrelson) and her amateur artist mother (Naomi Watts). But as Jeannette and her siblings begin to mature and fully comprehend their squatter-lifestyle and impoverished upbringing, they must work together to escape the clutches of their deadbeat par...

The Best of the 2016 Philadelphia Film Festival

Sadly, the 25th annual Philadelphia Film Festival has come and gone. One of my favorite yearly events produced an amazing film lineup throughout its 11-day span of uninterrupted movie-watching, making 2016 the city's most impressive festival to date. I was only able to catch 17 films in total, a slightly lower figure than usual, but I'm thrilled to look back and recognize my "Best of the Fest" selections ( here's a look back at the 2015 festival ). Keep an eye out for these picks in the upcoming months, because many of them are guaranteed to garner acclaim during this year's Oscar run. Best Supporting Actress Honorable Mention:  Greta Gerwig ( Jackie ) and Janelle Monae ( Moonlight ) #3.  Naomie Harris ( Moonlight ) #2.  Haley Squires ( I, Daniel Blake ) And the winner is ... Michelle Williams - Manchester by the Sea Williams has always been a personal favorite of mine. And although her screen time is somewhat limited in this over two-hour drama, she most ...

Rapid Reviews: Despicable Me 3 and The House

If there's one current animated franchise I always look forward to, it's the Despicable Me films. Credited directors Kyle Balda, Pierre Coffin and Eric Guillon (co-director) bring to theaters the third installment of this series. Yet, with each subsequent journey into the hilarious and complicated life of former-super-villain Gru (voice of Steve Carell), the Despicable Me franchise seems to take a step backwards. After foiling an attempt at capturing the disgruntled former child star and 80s retro villain, Balthazar Bratt (voiced by South Park creator Trey Parker), Gru and Lucy (Kristen Wiig) are fired from the Anti-Villain League (AVL). And just as Gru breaks the unfortunate news to his trio of adopted daughters, he's visited by a man who reveals that Gru has a twin brother named Dru (also Steve Carell) who happens to possess a taste for villainy himself. The estranged siblings engage in some mischievous behavior behind Lucy's back and it leads on a path back to Bal...