Skip to main content

WARKOP DKI REBORN : JANGKRIK BOSS PART 1 (2016) REVIEW : Semangat Nostalgia Atas Nama Komersialisasi


Siapa yang tak kenal dengan trio komedian Dono, Kasino, dan Indro? Nama mereka menjadi salah satu sosok legendaris yang dikagumi oleh banyak orang yang pernah mengikuti zaman kejayaan mereka. Mereka menyebut diri mereka ‘Warkop DKI’ yang sudah memiliki banyak sekali film-film dan serial televisi. Dono dan Kasino yang telah wafat, membuat grup komedian ini sudah absen selama beberapa tahun. Beberapa pihak ingin sekali ‘menghidupkan kembali’ sebuah ikon komedi legendaris di Indonesia ini.
 
Maka, Falcon Pictures yang sudah sering bekerjasama dengan Indro Warkop akhirnya melahirkan kembali trio komedian ini dengan sosok baru. Bersama dengan Anggy Umbara, Falcon Pictures berinisiatif untuk membuat Warkop DKI Reborn yang tetap mengangkat nama Dono, Kasino, dan Indro tetapi dengan wajah yang berbeda. Abimana Aryasatya, Vino G. Bastian, dan Tora Sudiro dipercaya untuk melakonkan sosok legendaris ini ke dalam sebuah film berjudul Jangkrik Boss yang dibagi menjadi dua bagian.

Jelas, proyek ini mendapatkan sorotan yang sangat besar dari calon penonton karena rasa penasaran mereka terhadap kapabilitas ketiga aktornya. Word of Mouth dari film ini pun semakin besar dan mendapatkan antusiasme yang cukup tinggi. Bagusnya, Ketiga aktor tersebut, secara performa, sangat berhasil menangkap semangat dari Warkop DKI lama. Hanya saja, problematika muncul dari bagaimana Anggy Umbara mengarahkan filmnya dan naskah dengan treatment komersialisasi.


30 menit awal terlihat benar bagaimana tingkah laku Abimana Aryasatya, Tora Sudiro, dan Vino G. Bastian yang berusaha keras meyakinkan penonton bahwa mereka sangat kompeten untuk melahirkan kembali komedian legendaris tersebut. Muncul banyak sekali sketsa-sketsa komedi yang menggambarkan dan memiliki semangat Warkop DKI kala itu. Komedi-komedi slapstick yang dikemas ulang dengan isu-isu masa kini sehingga penonton akan terasa sedikit relevan.

Sehingga ketika sketsa-sketsa penuh tribute itu berhenti dan kewajiban Anggy Umbara untuk memberikan jalan cerita dari Jangkrik Boss Part 1 ini malah menjadi sebuah perjalanan tensi yang menurun. Plot cerita di dalam Jangkrik Boss Part 1 menjadi sebuah problematika utama yang seharusnya perlu ditinjau ulang agar Warkop DKI Reborn tetap menjaga excitement yang sudah terlanjur muncul di awal film. Sehingga, penonton mungkin akan merasa kecewa dengan perjalanan cerita yang belum tuntas tersebut.


Tingkah laku Dono (Abimana Aryasatya), Kasino (Vino G. Bastian), dan Indro (Tora Sudiro) sebagai CHIPS yang seharusnya membantu menertibkan keadaan ternyata malah membuat banyak sekali kekacauan. Sehingga, mereka perlu untuk membereskan banyak sekali hal yang menjadi tanggung jawab mereka. Mereka pun diberi hukuman untuk membayar denda sebanyak  8 Milyar. Atas ulahnya tersebut mereka mencari cara agar mendapatkan uang itu.

Mulai dari meminjam uang dari saudara Dono hingga menjual barang-barang yang dimilikinya. Hingga suatu ketika, mereka menemukan sebuah peta harta karun dari kantong milik seseorang yang tergeletak di tengah jalan. Akhirnya, Dono, Kasino, dan Indro berusaha untuk menemukan harta karun tersebut yang ternyata membawa mereka ke negeri Jiran, Malaysia. Tetapi, ketika sampai, Peta tersebut terbawa oleh seorang wanita berbaju merah yang memiliki tas yang sama dengan mereka. 


Di sinilah problematika dari Warkop DKI Reborn : Jangkrik Boss Part 1. Keseluruhan film mungkin sudah dirangkum ke dalam sebuah sinopsis pendek di atas. Bagian kedua film Jangkrik Boss nanti, mungkin Anggy Umbara akan lebih berusaha untuk menyampaikan ceritanya. Mungkin banyak yang mengatakan bahwa sejak kapan film-film Warkop DKI mementingkan plot di dalamnya, tetapi yang perlu ditekankan di sini  adalah bagaimana Anggy Umbara memberhentikan ceritanya yang baru jalan 30 menit.

Di dalam Jangkrik Boss Part 1, Anggy Umbara lebih memaksa penonton untuk menerima nostalgia akan segala bentuk sketsa komedi milik Warkop DKI lama di beberapa adegan awal. Segala sketsa komedi itu dengan sukses menyampaikan segala keinginan Anggy Umbara untuk menyelesaikan misi tersebut. Tetapi, keambisiusan dalam menyelesaikan misi itu ternyata berlangsung terlalu lama sehingga berdampak dalam bagaimana Anggy Umbara menyampaikan pesan lain dalam sebuah plot.

Plot dalam cerita menjadi bias di antara sketsa-sketsa komedi yang berada di dalam filmnya. Sudah ada i'tikad baik dari Anggy Umbara yang berusaha untuk memberikan briefing tentang konflik dalam Jangkrik Boss Part 1. Terdistraksi dalam menjalankan plot utama dikarenakan oleh subplot yang bertebaran mungkin akan wajar, tetapi Anggy Umbara terlalu lama bercengkrama dengan segala gangguan tersebut. Sehingga, Jangkrik Boss Part 1 tak menjalankan pion ceritanya secara utuh sehingga itu menjadi poin yang harus diperbaiki lagi.


Perjalanan dan pengenalan kembali karakter Dono, Kasino, dan Indro di dalam Jangkrik Boss Part 1 sudah terasa cukup. Butuhnya keefektifan dari Sutradara film inlah poin yang perlu diperhatikan, yang mana seharusnya sudah dapat diprediksikan sebelumnya tanpa memotong plot cerita --yang bahkan terasa kasar.  Jangkrik Boss Part 1 terasa sibuk menumpulkan pemikiran penontonnya dengan berbagai terpaan sketsa komedi di dalamnya sehingga membentuk sebuah realita baru yang melupakan hak penonton dalam mendapatkan sebuah pesan yang utuh.

Plot cerita yang belum tuntas bila diiringi dengan problematika penuh kompleksitas dalam penuturannya mungkin masih mendapat kewajaran dari penonton. Tetapi, plot dalam Warkop DKI Reborn : Jangkrik Boss Part 1 ini pun tak memiliki kompleksitas yang rumit dan membaginya menjadi dua bagian akan menimbulkan respon setelah menonton yang membuat penontonnya berkubu. Ada yang menantikan film selanjutnya, atau mungkin jera untuk mengikuti film-film selanjutnya.

Atas nama komersialisasi, Warkop DKI Reborn : Jangkrik Boss membagi diri menjadi dua bagian dengan jumlah penonton yang sudah mencapai 6 juta. Tetapi, sekali lagi, penonton pun perlu mendapatkan sebuah pesan yang utuh dalam sebuah film. Kontinuitas yang dibangun oleh sutradara atau pun rumah produksi dalam komersialisasi sebuah produk mereka mungkin sudah tak bisa dihindari lagi. Hanya saja, perlu treatment bagaimana mereka mengemas sebuah kontinuitas produk mereka tanpa melupakan hak penontonnya untuk mendapatkan sebuah pesan yang utuh. 


Maka dari itu, Warkop DKI Reborn : Jangkrik Boss Part 1 ini memiliki banyak sekali potensi untuk menjadi sebuah sajian universal  penonton Indonesia. Pun, aktor-aktornya berhasil mengembalikan semangat-semangat Warkop DKI lama sehingga akan menimbulkan efek nostalgia. Tetapi, bagaimana Anggy Umbara lupa melaksanakan kewajibannya untuk menyampaikan sebuah pesan atau cerita secara utuh ini perlu diperhatikan lagi. Membagi Jangkrik Boss ke dalam sebuah dua bagian mungkin tak salah atas nama komersialisasi, tetapi tambahkan saja beberapa poin yang pada akhirnya dapat membuat penonton mengerti bahwa memang Jangkrik Boss ini memiliki urgensi menggunakan template ini.

Comments

Popular posts from this blog

The Glass Castle

Destin Cretton is anything but a household name. Yet, the gifted filmmaker turned heads with his massively overlooked 2013 drama, Short Term 12. The effort bridged together Cretton's singular story and vision with the remarkable acting talents of Brie Larson. Since then Larson has gone on to win an Academy Award (Room), but her career comes full circle in her latest collaboration with Destin Cretton in the adapted film The Glass Castle.

Told non-chronologically through various flashbacks, The Glass Castle follows the unconventional childhood of gossip columnist and eventual Best-Selling author Jeannette Walls (Larson). Prior to her career as a writer, Walls grows up under the dysfunctional supervision of her alcoholic father (Woody Harrelson) and her amateur artist mother (Naomi Watts). But as Jeannette and her siblings begin to mature and fully comprehend their squatter-lifestyle and impoverished upbringing, they must work together to escape the clutches of their deadbeat parents.


ATHIRAH (2016) REVIEW : Urgensi, Relevansi, dan Intimasi dalam Film Biografi

Urgensi, kata yang tepat dan selalu menjadi poin menarik di setiap film-film tentang seseorang atau biografi. Menilik tujuan seperti apa yang ingin diwujudkan lewat beberapa sineas setelah menyelesaikan proyek film biografi. Beberapa poin ini memang terkadang masih terkesan bias, karena masih ada kepentingan politik yang berusaha ingin disampaikan. Memang, film sejatinya bisa digunakan sebagai alternatif penyampaian pesan, film memiliki misi dari pembuatnya. Sehingga, metode ini kerap digunakan sebagai medium untuk membangun atau mengembalikan sebuah citra.
Juga ada Relevansi, kata yang tepat setelah menonton sebuah film biografi. Apa yang berusaha dibangun dan ingin disampaikan oleh menonton akan berdampak pada bagaimana seseorang memiliki paradigma dengan sosok tersebut. Dua poin itu juga yang membuat Riri Riza ingin mengabadikan secara visual tentang sosok Ibu Jusuf Kalla bernama Athirah. Memoir tentang Athirah telah pertama kali dituliskan ke dalam bentuk buku oleh Albethiene En…

The Best Performances in Christopher Nolan Films

Like a writer pushing his deadline, guest-writer Greg Rouleau has stepped in to deliver the first of a three-part Movie List of the Month featuring the magnificent Christopher Nolan just before the calendar changed to August (June's list). To begin the upcoming movie list series Greg begins by highlighting the Top 10 performances featured in Nolan's film catalog. Here's a look at the selections:



#10. Matthew McConaughey - Interstellar (2014)

The apex of the “McConaissance” came when McConaughey, fresh off an Academy Award win for Best Actor, signed on to star in Nolan’s big-budget sci-fi epic, with an ensemble that included its fair share of Oscar winners and nominees.  Heading this cast in impressive fashion, McConaughey’s Cooper perfectly embodies the rural American family man who can’t deny his dormant thrill for exploration when he’s chosen to lead a team through a wormhole in hopes of discovering a new home for Earth’s inhabitants.  Coop’s great balance of heart, herois…